Surabaya, VIVA Jatim – Masyarakat dianjurkan mulai memperhatikan faktor risiko demensia sejak memasuki usia 40 tahun. Deteksi lebih awal memungkinkan berbagai faktor risiko yang masih dapat dikelola segera ditangani sebelum seseorang memasuki usia lanjut. Penjualan berakhir dalam 1 hari! Ketua Center for Aging Wellness (CAW) Universitas Surabaya (Ubaya), dr Astrid Pratidina Susilo SpAn PhD, mengatakan deteksi dini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kognitif sepanjang rentang kehidupan.
Menurut Astrid, pemeriksaan faktor risiko seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol sudah dapat dilakukan sejak usia 40 tahun. Sementara ketika memasuki usia pra-lansia atau 45 tahun ke atas, masyarakat dapat mulai melakukan screening fungsi kognitif, termasuk daya ingat. Ia menegaskan, screening bukan berarti langsung menentukan seseorang mengalami demensia. Pemeriksaan tersebut justru bertujuan mengetahui faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko demensia. “Mengetahui itu bukan mengetahui bahwa dia sudah demensia, tapi justru mengetahui faktor-faktor risiko demensia,” ujarnya. Astrid menjelaskan, faktor risiko demensia terbagi menjadi faktor yang dapat dikelola dan faktor yang tidak dapat diubah. Faktor yang dapat dikelola antara lain tekanan darah tinggi, obesitas, kolesterol, diabetes, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat hingga isolasi sosial. Ia menyebut pedoman terbaru WHO yang diterbitkan pada Juli 2026 menyatakan hingga 45 persen risiko demensia dapat dikaitkan dengan faktor yang dapat dimodifikasi. WHO juga merekomendasikan pengelolaan faktor risiko sepanjang rentang kehidupan. “Faktor risikonya ada yang bisa dikelola, ada yang tidak bisa dikelola. Tapi good news-nya, 45 persen itu bisa dikelola,” katanya. Karena itu, Astrid meminta masyarakat tidak menunggu sampai muncul gangguan daya ingat berat untuk mulai memperhatikan kesehatan otak. Dalam rangkaian Alzheimer Awareness Month 2026, Ubaya juga membuka layanan screening daya ingat setiap hari kerja di ruang Center for Aging Wellness melibatkan tenaga dari Fakultas Kedokteran serta Fakultas Psikologi Ubaya. Hingga kegiatan utama digelar, sekitar 95 orang telah mengikuti screening tersebut.
Astrid mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kampanye global World Alzheimer’s Month 2026 yang mengangkat tema “The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters”. Penjualan berakhir dalam 1 hari! Ketua Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Ubaya, Aloysia Vira Herawati, mengatakan deteksi dini demensia perlu ditempatkan sebagai bagian dari pemenuhan hak masyarakat atas layanan kesehatan. Menurutnya, masyarakat yang memasuki usia pra-lansia perlu mengetahui dan memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia, termasuk di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Matematika Jadi Ilustrasi Natal “Deteksi dini demensia itu adalah dasar. Itu harus. Itu bukan sesuatu yang kemudian, ‘Oh iya, gue sekian pembayaran, biasanya kita apply’. Nggak begitu. Itu adalah bagian dari kita sebagai warga,” kata Aloysia. Ia mendorong masyarakat tidak menunggu sampai mengalami keluhan berat untuk mulai menanyakan layanan deteksi dini. Olahan Limbah Kantong Teh Karya Mahasiswa Ubaya Bagi warga yang mulai memasuki usia pra-lansia, Aloysia menyarankan agar aktif menanyakan ketersediaan layanan tersebut di fasilitas kesehatan tingkat pertama. “Kalau bisa tanyakan. Harus ditanyakan. Karena memang tidak semua faskes atau mungkin puskesmas memberikan layanan itu secara spesifik,” ujarnya. Menurut Aloysia, pemeriksaan terkait demensia dapat menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui apakah screening risiko demensia sudah termasuk dalam layanan kesehatan yang diterima. “Biasanya kan dijadikan satu sama pemeriksaan kesehatan keseluruhan. Bagaimana kemudian itu dikelola, layanan itu ada atau tidak,” katanya. Ia menilai keberadaan dasar hukum mengenai layanan kesehatan dan kesejahteraan lansia perlu diikuti dengan akses layanan yang dapat diketahui dan dimanfaatkan masyarakat. Astrid mengatakan penanganan demensia tidak cukup hanya melalui pendekatan medis. Karena itu, rangkaian kegiatan di Ubaya melibatkan berbagai unsur, mulai dari Center for Aging Wellness, Pusham, PUI-PASDEG, Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, Rumah Sakit Ubaya, Alzheimer Indonesia, Rotary Club Surabaya Rungkut, hingga Ikatan Alumni (IKA) Ubaya, IKA Fakultas Kedokteran dan IKA Psikologi. Kolaborasi tersebut mencakup screening, edukasi faktor risiko, nutrisi, dukungan psikologis hingga pendampingan caregiver. Astrid berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi program berkelanjutan.
“Center for Aging Wellness menjadi simpul yang merangkai semuanya dan menjaga agar program ini berlanjut, bukan berhenti sebagai kegiatan seremonial,” ujarnya.Selain screening, rangkaian kegiatan diisi edukasi mengenai aktivitas yang dapat membantu menjaga fungsi kognitif. Salah satunya senam otak yang diperkenalkan Alzheimer Indonesia. Bagi keluarga yang mendampingi orang dengan demensia, pemahaman mengenai tahapan penyakit juga menjadi bagian penting. Caregiver perlu mengetahui perubahan kondisi sehingga dapat menyesuaikan bentuk pendampingan. Pada fase awal, orang dengan demensia masih dapat melakukan aktivitas dan bersosialisasi dengan pendampingan. Ketika memasuki fase menengah, kebutuhan pengawasan dapat menjadi lebih intensif. Dengan memahami perjalanan demensia dari satu fase ke fase berikutnya, caregiver diharapkan dapat memberikan pendampingan dengan lebih tenang sekaligus menjaga kualitas hidup orang dengan demensia.
Link Artikel : https://jatim.viva.co.id/gaya-hidup/28080-usia-40-tahun-wajib-waspada-risiko-demensia-ini-faktor-yang-bisa-dikelola?page=all
Oleh : Zainul Arifin,Rachmad Fahrizal Tito

